Rabu, 16 Oktober 2013




Pengertian Individu, Keluarga dan Masyarakat

1) Pengertian Individu
Individu berasal dari kata latin, “individuum” yang artinya tak terbagi. Kata individu merupakan sebutan yang dapat untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas. Kata individu bukan berarti manusia sebagai keseluruhan yang tak dapat dibagi melainkan sebagai kesatuan yang terbatas yaitu sebagai manusia perseorangan, demikian pendapat Dr. A. Lysen.

Individu menurut konsep Sosiologis berarti manusia yang hidup berdiri sendiri. Individu sebagai mahkluk ciptaan Tuhan di dalam dirinya selalu dilengkapi oleh kelengkapan hidup yang meliputi raga, rasa, rasio, dan rukun.

1. Raga, merupakan bentuk jasad manusia yang khas yang dapat membedakan antara individu yang satu dengan yang lain, sekalipun dengan hakikat yang sama

2. Rasa, merupakan perasaan manusia yang dapat menangkap objek gerakan dari benda-benda isi alam semesta atau perasaan yang menyangkut dengan keindahan

3. Rasio atau akal pikiran, merupakan kelengkapan manusia untuk mengembangkan diri, mengatasi segala sesuatu yang diperlukan dalam diri tiap manusia dan merupakan alat untuk mencerna apa yang diterima oleh panca indera.

4. Rukun atau pergaulan hidup, merupakan bentuk sosialisasi dengan manusia dan hidup berdampingan satu sama lain secara harmonis, damai dan saling melengkapi. Rukun inilah yang dapat membantu manusia untuk membentuk suatu kelompok social yang sering disebut masyarakat


 2) Pengertian  Keluarga
 
Ada beberapa pandangan atau anggapan mengenai keluarga. 
Menurut Sigmund Freud keluarga itu terbentuk karena adanya perkawinan pria dan wanita. Lain halnya Adler berpendapat bahwa mahligai keluarga itu dibangun berdasarkan pda hasrat atau nafsu berkuasa.

 
Durkheim berpendapat bahwa keluarga adalah lembaga sosial sebagai hasil faktor-faktor politik , ekonomi dan keluarga.

Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh pendidikan berpendapat bahwa keluarga adalah kumpulan beberapa orang yang karena terikat oleh satu turunan lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai satu gabungan yang hakiki, esensial, enak dan berkehendak bersama-sama memperteguh gabungan itub untuk memuliakan masing-masing anggotanya.

3) Pengertian Masyarakat
 
Masyarakat merupakan salah satu satuan sosial sistem sosial, atau kesatuan hidup manusia. Istilah inggrisnya adalah society , sedangkan masyarakat itu sendiri berasal dari bahasa Arab Syakara yang berarti ikut serta atau partisipasi, kata Arab masyarakat berarti saling bergaul yang istilah ilmiahnya berinteraksi.

Masyarakat adalah suatu kelompok manusia yang telah memiliki tatanan kehidupan, norma-norma, adat istiadat yang sama-sama ditaati dalam lingkungannya.

Ada beberapa pengertian masyarakat :

a. Menurut Selo Sumarjan (1974) masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama yang
menghasilkan kebudayaan

b. Menurut Koentjaraningrat (1994) masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi
menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan terikat oleh suatu rasa identitas yang sama.

c. Menurut Ralph Linton (1968)
masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang hidup dan bekerja sama dalam waktu yang relatif lama dan mampu membuat keteraturan dalam kehidupan bersama dan mereka menganggap sebagai satu kesatuan sosial.

d. Menurut Karl Marx, masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi

e. Menurut Emile Durkheim, masyarakat merupakan suau kenyataan objektif pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya.

f. Menurut Paul B. Horton & C. Hunt, masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok / kumpulan manusia tersebut

Tatanan kehidupan, norma-norma yang mereka miliki itulah yang dapat menjadi dasar kehidupan sosial dalam lingkungan mereka, sehingga dapat membentuk suatu kelompok manusia yang memiliki ciri-ciri kehidupan yang khas.

Sumber :
1. google.co.id

Selasa, 15 Oktober 2013



KONFLIK ANTAR MASYARAKAT DAN ANTAR SUKU

Perang adalah sebuah aksi fisik dan non fisik (dalam arti sempit, adalah kondisi permusuhan dengan menggunakan kekerasan) antara dua atau lebih kelompok manusia[1] untuk melakukan dominasi di wilayah yang dipertentangkan. Perang secara purba di maknai sebagai pertikaian bersenjata. Di era modern, perang lebih mengarah pada superioritas teknologi dan industri. Hal ini tercermin dari doktrin angkatan perangnya seperti "Barang siapa menguasai ketinggian maka menguasai dunia". Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan atas ketinggian harus dicapai oleh teknologi. Namun kata perang tidak lagi berperan sebagai kata kerja, namun sudah bergeser pada kata sifat. Yang memopulerkan hal ini adalah para jurnalis, sehingga lambat laun pergeseran ini mendapatkan posisinya, namun secara umum perang berarti "pertentangan". Yang bisa di sangkut pautkan juga dengan konflik.

Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.

Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.

Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.

Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.

  1. Perbedaan Individu
Merupakan perbedaan yang menyangkut perasaan, pendirian, pendapat atau ide yang berkaitan dengan harga diri, kebanggaan dan identitas seseorang. Perbedaan kebiasaan dan perasaan yang dapat menimbulkan kebencian dan amarah sebagai awal timbulnya konflik. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.

  1. Perbedaan Latar Belakang Kebudayaan
Kepribadian seseorang dibentuk dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Tidak semua masyarakat memiliki nilai-nilai dan norma-norma sosial yang sama. Apa yang dianggap baik oleh suatu masyarakat belum tentu sama dengan apa yang dianggap baik oleh masyarakat. Misalnya orang jawa dengan orang papua yang memiliki budaya berbeda, jelas akan membedakan pola pikir dan kepribadian yang berbeda pula. Jika hal ini tak ada suatu hal yang dapat mempersatukan, akan berakibat timbulnya konflik.

3.      Perbedaan Kepentingan
Setiap individu atau keompok seringkali memiliki kepentingan yang berbeda dengan individu atau kelompok lainnya. semua itu bergantung dari kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Perbedaan kepentingan ini menyangkut kepentingan ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Misalnya seseorang pengusaha menghendaki adanya penghematan dalam biaya suatu produksi sehingga terpaksa harus melakukan rasionalisasi pegawai. Namun, para pegawai yang terkena rasionalisasi merasa hak-haknya diabaikan sehingga perbedaan kepentingan tersebut menimbulkan suatu konflik. Misalnya mengenai masalah pemanfaatan hutan. Para pecinta alam menganggap hutan sebagai bagian dari lingkungan hidup manusia dan habitat dari flora dan fauna. Sedangkan bagi para petani hutan dapat menghambat tumbuhnya  jumlah areal persawahan atau perkebunan. Bagi para pengusaha kayu tentu ini menjadi komoditas yang menguntungkan. Dari kasus ini ada pihak – pihak yang memiliki kepentingan yang saling bertentangan, sehingga dapat berakibat timbulnya konflik.

      Faktor-Faktor Penyebab Konflik di Indonesia
Dalam masyarakat Indonesia yang multikultur rawan terhadap terjadinya suatu konflik sosial, karena secara garis besar struktur sosial masyarakat Indonesia terbagi kedalam berbagai suku bangsa, agama, maupun golongan yang beragam.
Menurut J. Ranjabar hal-hal yang dapat menjadi penyebab terjadinya konflik pada masyarakat Indoenesia adalah sebagai berikut :
1)      Apabila terjadi dominasi suatu kelompok terhadap kelompok lain, contohnya adalah konflik yang terjadi di Aceh dan Papua.
2)      Terdapat persaingan dalam mendapatkan mata pencaharian hidup antara kelompok yang berlainan suku bangsa. Contohnya konflik yang terjadi di Sambas
3)      Terjadi pemaksaan unsur-unsur kebudayaan dari warga sebuah suku terhadap warga suku bangsa lain. Contohnya konflik yang terjadi di Sampit.
4)      Terdapat potensi konflik yang terpendam, yang telah bermusuhan secara adat. Contohnya konflik antar suku di pedalaman Papua.

Sebagai contoh kasus :
Peperangan antar suku di pedalaman papua, yang asal mulanya berawal dari saling ejek antar warga. Dan di panjang kan masalahnya menjadi antar suku, yang dimana menyebab kan terjadinya pertikaian antar suku. Dan tidak Cuma itu saja penyebab komflik dan pertentangan, bias kita liat sekarang-sekarang ini. Para pelajar saling bertikai yang sering di sebut (tawuran) antar pelajar. Yang sebab nya sama seperti kasus di papua, hanya saling ejek atau saling melecehkan sesuatu dari masing-masing pihak terjadilah pertikaian atau konflik dan pertentangan yang menyebab kan sesame pelajar tawuran. 

Analisis masalah :
Masalah dari kasus diatas bersumber pada kurangnya kesadaran diri dari masing-masing individual, untuk mengendalikan diri dari suatu masalah yang tidak perlu di lakukan. Dan kurangnya perhatian keluarga untuk memberikan nasehat yang baik dalam mengambil tindakan supaya paham arti pertikaian itu salah, yang menyebab kan seorang atau siapa pun merugi. Dan kurangnya menjalin komunikasi yang baik sesame antar warga atau suku, tidak menjatuh kan sesuatu yang bisa memicuh pertentangan atau konflik dalam suku dan warga.

DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Perang


KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT)

Kekerasan dalam rumah tangga (disingkat KDRT) adalah kekerasan yang dilakukan di dalam rumah tangga baik oleh suami maupun oleh istri. Menurut Pasal 1 UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT), KDRT adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Sebagian besar korban KDRT adalah kaum perempuan (istri) dan pelakunya adalah suami, walaupun ada juga korban justru sebaliknya, atau orang-orang yang tersubordinasi di dalam rumah tangga itu. Pelaku atau korban KDRT adalah orang yang mempunyai hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, perwalian dengan suami, dan anak bahkan pembatu rumah tangga, tinggal di rumah ini. Ironisnya kasus KDRT sering ditutup-tutupi oleh si korban karena terpaut dengan struktur budaya, agama dan sistem hukum yang belum dipahami. Padahal perlindungan oleh negara dan masyarakat bertujuan untuk memberi rasa aman terhadap korban serta menindak pelakunya. 

1.1 Waspadai 8 Tanda Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT)
Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) tidak hanya berwujud kekerasan fisik melainkan juga meliputi kekerasan emosional serta psikologis. Pada umumnya, perilaku kekerasan tidak muncul begitu saja, namun terdapat tanda yang mendahuluinya.

Tanda Perilaku Kekerasan dalam Rumah Tangga
Berikut adalah tanda-tanda KDRT:
1. Terburu-buru mengambil keputusan
Ketika seseorang yang baru Anda kenal langsung mengajak menikah, maka Anda perlu waspada. Orang dengan potensi berperilaku kasar membutuhkan pemenuhan kebutuhan untuk mengontrol pasangannya. Mengikat calon pasangan dalam pernikahan merupakan cara mudah untuk mendapatkan kontrol penuh.

2. Cemburu berlebihan
Cemburu merupakan tanda cinta, namun cemburu buta bisa memicu masalah.  Segala perilaku tersebut pada awalnya mungkin nampak seperti sebentuk perhatian. Namun, jika dilakukan secara obsesif, kondisi ini bisa menjadi pertanda perilaku posesif dan dominasi.

3. Selalu ingin mengendalikan
Individu yang kasar dan cenderung pada kekerasan memiliki keinginan besar untuk mengontrol. Kontrol berlebihan jelas akan mengurangi kebebasan pasangan.

1.2 Faktor Penyebab Munculnya Masalah Kekerasan dalam Rumah Tangga
Berikut adalah beberapa faktor penyebab munculnya masalah kekerasan dalam rumah tangga, di antaranya :

1. Motif (dorongan seseorang melakukan sesuatu)
a. Terganggunya Motif Biologis
Terganggu atau tidak terpenuhinya motif biologis seperti makan, minum, dan sex anggota keluarga membuat mereka melakukan suatu tindakan untuk menuntut pemenuhan kebutuhan tersebut. Namun demikian, cara menuntut pemenuhan kebutuhan tersebutlah yang terkadang menyimpang. Seorang istri mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan kepada suaminya karena suaminya tidak bisa memenuhi kebutuhan biologisnya dan kebutuhan biologis anaknya atau suami yang merasa tidak terpenuhi kebutuhan sex-nya, sehingga melakukan tindak kekerasan kepada istrinya, bahkan melampiaskannya kepada anak kandungnya sendiri.

b. Terganggunya Motif Psikologis
Seorang istri yang merasa tertekan oleh tindakan suaminya yang sangat membatasi kegiatan istrinya dalam aktualisasi diri, memaksakan istrinya untuk menuruti semua keinginan suaminya atau sebaliknya, atau orang tua yang memaksakan keinginannya kepada anaknya seperti menuntut anaknya untuk menjadi dokter atau sebaliknya anak yang menuntut orang tuanya memenuhi semua keinginannya. Ketika tekanan-tekanan dan tuntutan-tuntutan ini terakumulasi dan mencapai puncaknya, maka yang muncul adalah tindakan-tindakan yang menyimpang dan juga tindak kekerasan.

Contohnya seorang istri yang yang memotong alat kelamin suaminya karena suaminya tetap ngotot ingin memiliki istri lagi. Orang tua yang membunuh anaknya karena anaknya ngotot ingin punya motor atau malu dengan keadaan anaknya yang memiliki kekurangan.
Semua tindak kekerasan di atas juga sangat berkaitan dan dipengaruhi oleh kondisi psikis anggota keluarga yang bersangkutan, entah itu stress atau depresi, malu, dan sebagainya.

c. Terganggunya Motif Teologis
Motif teologis berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan-nya. Ketika ini terganggu, maka tidak menutup kemungkinan akan muncul upaya-upaya pemberontakan untuk memenuhi kebutuhan ini.
Perbedaan agama atau keyakinan pasangan suami-istri dan keduanya tidak saling memahami satu sama lain, tidak ada toleransi di dalamnya, maka yang muncul adalah ketidakharmonisan antara keduanya. Tidak menutup kemungkinan, tindak kekerasan pun akan muncul akibat saling memaksakan keyakinan masing-masing.

Jauhnya keluarga dari agama atau keyakinan juga bisa memunculkan tindak kekerasan di dalam keluarga tersebut. Ketika ajaran agama untuk saling menyayangi, berbakti, sabar, saling menghormati, dan saling membantu satu sama lain khususnya di dalam keluarga diabaikan dan tidak diterapkan, maka kekerasan muncul, anak durhaka pada orang tua, orang tua memukuli anaknya, dan sebagainya.
d. Terganggunya Motif Sosial

Terganggunya motif sosial anggota keluarga seperti terganggunya interaksi antar anggota keluarga ataupun interaksi yang terlalu berlebihan juga bisa memunculkan tindak penyimpangan seperti kekerasan. Contohnya seorang suami yang jarang pulang dan memiliki masalah di luar, karena jarangnya interaksi maka anggota keluarga yang lain mungkin tidak mengetahuinya dan ketidaktahuan mereka akan masalah itu mengakibatkan munculnya sikap-sikap yang justru memperburuk suasana seperti anak yang rewel dan istri yang banyak meminta, sehingga emosi sang suami memuncak bahkan memicu ia melakukan tindak kekerasan. Contoh lain adalah interaksi yang berlebihan yang menimbulkan sikap manja. Sikap manja ini dapat menyebabkan ketergantungan anggota keluarga dan ketika keinginannya tidak terpenuhi, tidak menutup kemungkinan tindakan yang menyimpang muncul bahkan kekerasan. Contoh lainnya, karena faktor teman/kerabat yang sering melakukan tindak kekerasan terhadap anak/istrinya, di sini bukan berarti ia mengikuti perilaku buruk teman/kerabatnya itu, tapi pada saat dia memiliki masalah yang cukup rumit dan situasi/keadaan di dalam rumah tidak seperti yang dia harapkan, maka munculah pengaruh dari tindak kekerasan yang sering dilakukan teman/kerabatnya itu untuk menyelesaikan masalah.

Faktor lain yang mempengaruhi munculnya tindak kekerasan adalah perbedaan budaya/kebiasaan antara istri dengan suaminya dimana mereka tidak bisa saling memahami adanya rasal dari . Contoh, bila suami berasal dari suku tertentu yang terkenal keras, sedangkan si istri berasal dari suku tertentu yang bersifat lemah lembut, mereka walaupun sudah menjadi suami-istri yang harusnya saling memahami dan saling menerima satu sama lain, justru itu tidak terjadi, yang akhirnya terjadilah egoisme masing-masing dan memaksakan kehendaknya sehingga munculah tindak kekerasan di dalam keluarga tersebut.

2. HARAPAN
Sosiolog keluarga mencatat bahwa harapan yang tidak realistik dalam pengasuhan anak menyumbang pada banyaknya angka perceraian dan menciptakan kekecewaan dan kemarahan terhadap kegagalan pasangan dan anak untuk meneruskan harapan.
Dalam suatu keluarga pasti akan ada suatu harapan mengenai apa yang akan dicapai setelah mereka berkeluarga, misalkan harapan agar keluargaya hidup sejahtera dengan memiliki anak dan hidup berkecukupan. Namun tekadang harapan-harapan malah menjadi bumerang bagi keluarga tersebut. Keluarga yang tidak dapat mewujudkan harapannya cenderung akan menimbulkan suatu masalah. Misalkan pasangan suami istri yang sudah lama menikah menginginkan mempunyai anak, namun tak kunjung diberi keturunan, hal itu dapat menyebabkan keharmonisan keluarga sedikit terusik, akan ada pihak yang disalahkan antara suami atau istri, biasanya pihak yang lebih banyak disalahkan yaitu pihak istri, banyak kasus yang tejadi hal itu dapat menyebabkan adanya ketidak puasan dan kekecewaan suami kepada istri. Jika kesabaran dari suami sudah tidak dapat lagi ditahan hal itu dapat mengakibatkan adanya penghardikan bahkan kekerasan dalam rumah tangga sebagai pelampiasan akan kekecewaan.

3. NILAI-NILAI ATAU NORMA
Nilai-nilai dan norma merupakan salah satu indikasi yang berkaitan dengan penyebab masalah sosial. Nilai dan norma sebagai penyebab masalah sosial dalam konteks kekerasan dalam rumah tangga disini terjadi manakala terjadi pelanggaran terhadap nilai dan norma yang ada didalam kelurga atau tidak dipatuhinya nilai didalam keluarga. selain itu, Penerapan nilai etika dalam keluarga yang salah, tidak adanya penghormatan dari istri kepada suami, tidak adanya kepercayaan suami terhadap istri, tidak berjalannya fungsi dan peran masing-masing anggota keluarga baik istri,suami, maupun anak juga menjadi pemicu terjadinya kekerasan. Sebagai contoh seorang ayah yang selalu menanamkan nilai disiplin terhadap anak dengan cara kekerasan, bagi ayah mungkin cara ini benar karena memiliki tujuan yang baik, tapi secara real tindakan ini sudah merupakan tindakan kekerasan yang akan berakibat fatal bagi perkembangan fisik maupun psikis anak. Dan pola pendidikan ini mungkin akan ditiru oleh anaknya kelak ketika menjadi seorang ayah maupun ibu, sehingga kekerasan terjadi secara turun-temurun. Contoh lain yang berkaitan dengan ketidak adanya kepercayaan antara suami dan istri misalnya dalam sebuah keluarga baik suami maupun istri timbul kecurigaan yang berlebihan seperti perselingkuhan yang menyebabkan suami ataupun istri tidak dapat berpikir panjang yang akhirnya menimbulkan percekcokan dan lebih parahnyalagi kekerasan fisik pun terjadi.


4. TIDAK TERSEDIANYA SISTEM SUMBER
Sumber yaitu suatu yang memiliki nilai dan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan serta memecahkan suatu masalah. Sumber kesejahteraan sosial dapat diartikan sebagai sumber atau potensi yang dapat digunakan dalam usaha kesejahteraan sosial atau praktek pekerja sosial.

Sasaran praktek pekerja sosial adalah hubungan antara orang dengan sistem-sistem dilingkungan sosialnya. Manusia yang sangat tergantung pada berbagai sistem sumber yang ada di sekitar kehidupannya untuk memperoleh berbagai sumber serta pelayanan dan kesempatan yang diperlukan dalam memenuhi berbagai kebutuhan.

Sumber adalah sesuatu yang berharga baik yang sudah maupun yang harus ditemukan yang dapat dimobilisasi sehingga dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan atau pemecahan masalah.
Dengan berbagai materi yang telah disampaikan, masalah yang terjadi yaitu ketidak tersedianya sistem sumber juga dapat meyebabkan masalah terjadi di dalam keluarga. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) juga dapat disebabkan oleh tidak adanya sistem sumber .

Sebagai contoh kasus yaitu :
Sebagai contoh kasus kebanyakan dimana seorang istri atau seorang anak mendapatkan kekerasan dalam keluarga yang di lakukan seorang ayah. Yang melampiaskan amarahnya dengan cara kekerasa dengan contoh memukul atau menendang seorang anak atau istrinya dan melakukan kekerasan apa pun kepada mereka. Yang di permasalahkan dalam contoh kasus ini yaitu kekurang ekonomi yang sebagai dasar terjadinya kekerasan dalam keluarga.

Analisis masalah :
Masalah dari kasus diatas bersumber pada kekurangan ekonomi. Sebuah rumah tangga yang kekurangan ekonomi sering menjadi dasar terjadinya KDRT. Tuntutan yang besar dari istri kepada suami yang menyebabkan sering terjadinya konflik dan terarah ke KDRT. Kaitan kasus diatas dengan penyebab masalah sosial tidak adanya sistem sumber yaitu ayah yang bekerja dengan hasil minim inilah yang menjadi pokok permasalahan. Kekurangan sumber dari ayah seharusnya kita gali lebih dalam . sumber sebenarnya dapat kita cari ataupun dapat kita buat. Sumber dapat berasal dari saudara, tetangga, teman, dan juga pemerintah maupun swasta.
Dalam kasus ini kekurangan dalam hal ekonomi dapat diberikan solusi seorang ayah dengan mencari pekerjaan yang lebih baik. Apabila susah mendapatkan pekerjaan yang baik karena umur yang semakin tua, ayah dapat mencari bantuan kepada saudara, teman, maupun meminjam dana dari instansi pemerintah maupun swasta. Dana yang dipinjam dapat digunakan dengan baik untuk membangun usaha yang belum banyak dilakukan oleh masyarakat.
Dalam hal ini, perubahan pola pikir ayah sebagai kepala keluargalah yang seharusnya kita rubah (mainset). Dengan cara itu kemungkinan besar akan berubah sifat seorang ayah yang selalu menggunakan kekerasan dalam mengambil keputusan.



DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Kekerasan_dalam_rumah_tangga
www.amazine.co/23387/waspadai-8-tanda-kekerasan-dalam-rumah-tangga-kdrt