Selasa, 15 Oktober 2013



KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT)

Kekerasan dalam rumah tangga (disingkat KDRT) adalah kekerasan yang dilakukan di dalam rumah tangga baik oleh suami maupun oleh istri. Menurut Pasal 1 UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT), KDRT adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Sebagian besar korban KDRT adalah kaum perempuan (istri) dan pelakunya adalah suami, walaupun ada juga korban justru sebaliknya, atau orang-orang yang tersubordinasi di dalam rumah tangga itu. Pelaku atau korban KDRT adalah orang yang mempunyai hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, perwalian dengan suami, dan anak bahkan pembatu rumah tangga, tinggal di rumah ini. Ironisnya kasus KDRT sering ditutup-tutupi oleh si korban karena terpaut dengan struktur budaya, agama dan sistem hukum yang belum dipahami. Padahal perlindungan oleh negara dan masyarakat bertujuan untuk memberi rasa aman terhadap korban serta menindak pelakunya. 

1.1 Waspadai 8 Tanda Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT)
Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) tidak hanya berwujud kekerasan fisik melainkan juga meliputi kekerasan emosional serta psikologis. Pada umumnya, perilaku kekerasan tidak muncul begitu saja, namun terdapat tanda yang mendahuluinya.

Tanda Perilaku Kekerasan dalam Rumah Tangga
Berikut adalah tanda-tanda KDRT:
1. Terburu-buru mengambil keputusan
Ketika seseorang yang baru Anda kenal langsung mengajak menikah, maka Anda perlu waspada. Orang dengan potensi berperilaku kasar membutuhkan pemenuhan kebutuhan untuk mengontrol pasangannya. Mengikat calon pasangan dalam pernikahan merupakan cara mudah untuk mendapatkan kontrol penuh.

2. Cemburu berlebihan
Cemburu merupakan tanda cinta, namun cemburu buta bisa memicu masalah.  Segala perilaku tersebut pada awalnya mungkin nampak seperti sebentuk perhatian. Namun, jika dilakukan secara obsesif, kondisi ini bisa menjadi pertanda perilaku posesif dan dominasi.

3. Selalu ingin mengendalikan
Individu yang kasar dan cenderung pada kekerasan memiliki keinginan besar untuk mengontrol. Kontrol berlebihan jelas akan mengurangi kebebasan pasangan.

1.2 Faktor Penyebab Munculnya Masalah Kekerasan dalam Rumah Tangga
Berikut adalah beberapa faktor penyebab munculnya masalah kekerasan dalam rumah tangga, di antaranya :

1. Motif (dorongan seseorang melakukan sesuatu)
a. Terganggunya Motif Biologis
Terganggu atau tidak terpenuhinya motif biologis seperti makan, minum, dan sex anggota keluarga membuat mereka melakukan suatu tindakan untuk menuntut pemenuhan kebutuhan tersebut. Namun demikian, cara menuntut pemenuhan kebutuhan tersebutlah yang terkadang menyimpang. Seorang istri mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan kepada suaminya karena suaminya tidak bisa memenuhi kebutuhan biologisnya dan kebutuhan biologis anaknya atau suami yang merasa tidak terpenuhi kebutuhan sex-nya, sehingga melakukan tindak kekerasan kepada istrinya, bahkan melampiaskannya kepada anak kandungnya sendiri.

b. Terganggunya Motif Psikologis
Seorang istri yang merasa tertekan oleh tindakan suaminya yang sangat membatasi kegiatan istrinya dalam aktualisasi diri, memaksakan istrinya untuk menuruti semua keinginan suaminya atau sebaliknya, atau orang tua yang memaksakan keinginannya kepada anaknya seperti menuntut anaknya untuk menjadi dokter atau sebaliknya anak yang menuntut orang tuanya memenuhi semua keinginannya. Ketika tekanan-tekanan dan tuntutan-tuntutan ini terakumulasi dan mencapai puncaknya, maka yang muncul adalah tindakan-tindakan yang menyimpang dan juga tindak kekerasan.

Contohnya seorang istri yang yang memotong alat kelamin suaminya karena suaminya tetap ngotot ingin memiliki istri lagi. Orang tua yang membunuh anaknya karena anaknya ngotot ingin punya motor atau malu dengan keadaan anaknya yang memiliki kekurangan.
Semua tindak kekerasan di atas juga sangat berkaitan dan dipengaruhi oleh kondisi psikis anggota keluarga yang bersangkutan, entah itu stress atau depresi, malu, dan sebagainya.

c. Terganggunya Motif Teologis
Motif teologis berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan-nya. Ketika ini terganggu, maka tidak menutup kemungkinan akan muncul upaya-upaya pemberontakan untuk memenuhi kebutuhan ini.
Perbedaan agama atau keyakinan pasangan suami-istri dan keduanya tidak saling memahami satu sama lain, tidak ada toleransi di dalamnya, maka yang muncul adalah ketidakharmonisan antara keduanya. Tidak menutup kemungkinan, tindak kekerasan pun akan muncul akibat saling memaksakan keyakinan masing-masing.

Jauhnya keluarga dari agama atau keyakinan juga bisa memunculkan tindak kekerasan di dalam keluarga tersebut. Ketika ajaran agama untuk saling menyayangi, berbakti, sabar, saling menghormati, dan saling membantu satu sama lain khususnya di dalam keluarga diabaikan dan tidak diterapkan, maka kekerasan muncul, anak durhaka pada orang tua, orang tua memukuli anaknya, dan sebagainya.
d. Terganggunya Motif Sosial

Terganggunya motif sosial anggota keluarga seperti terganggunya interaksi antar anggota keluarga ataupun interaksi yang terlalu berlebihan juga bisa memunculkan tindak penyimpangan seperti kekerasan. Contohnya seorang suami yang jarang pulang dan memiliki masalah di luar, karena jarangnya interaksi maka anggota keluarga yang lain mungkin tidak mengetahuinya dan ketidaktahuan mereka akan masalah itu mengakibatkan munculnya sikap-sikap yang justru memperburuk suasana seperti anak yang rewel dan istri yang banyak meminta, sehingga emosi sang suami memuncak bahkan memicu ia melakukan tindak kekerasan. Contoh lain adalah interaksi yang berlebihan yang menimbulkan sikap manja. Sikap manja ini dapat menyebabkan ketergantungan anggota keluarga dan ketika keinginannya tidak terpenuhi, tidak menutup kemungkinan tindakan yang menyimpang muncul bahkan kekerasan. Contoh lainnya, karena faktor teman/kerabat yang sering melakukan tindak kekerasan terhadap anak/istrinya, di sini bukan berarti ia mengikuti perilaku buruk teman/kerabatnya itu, tapi pada saat dia memiliki masalah yang cukup rumit dan situasi/keadaan di dalam rumah tidak seperti yang dia harapkan, maka munculah pengaruh dari tindak kekerasan yang sering dilakukan teman/kerabatnya itu untuk menyelesaikan masalah.

Faktor lain yang mempengaruhi munculnya tindak kekerasan adalah perbedaan budaya/kebiasaan antara istri dengan suaminya dimana mereka tidak bisa saling memahami adanya rasal dari . Contoh, bila suami berasal dari suku tertentu yang terkenal keras, sedangkan si istri berasal dari suku tertentu yang bersifat lemah lembut, mereka walaupun sudah menjadi suami-istri yang harusnya saling memahami dan saling menerima satu sama lain, justru itu tidak terjadi, yang akhirnya terjadilah egoisme masing-masing dan memaksakan kehendaknya sehingga munculah tindak kekerasan di dalam keluarga tersebut.

2. HARAPAN
Sosiolog keluarga mencatat bahwa harapan yang tidak realistik dalam pengasuhan anak menyumbang pada banyaknya angka perceraian dan menciptakan kekecewaan dan kemarahan terhadap kegagalan pasangan dan anak untuk meneruskan harapan.
Dalam suatu keluarga pasti akan ada suatu harapan mengenai apa yang akan dicapai setelah mereka berkeluarga, misalkan harapan agar keluargaya hidup sejahtera dengan memiliki anak dan hidup berkecukupan. Namun tekadang harapan-harapan malah menjadi bumerang bagi keluarga tersebut. Keluarga yang tidak dapat mewujudkan harapannya cenderung akan menimbulkan suatu masalah. Misalkan pasangan suami istri yang sudah lama menikah menginginkan mempunyai anak, namun tak kunjung diberi keturunan, hal itu dapat menyebabkan keharmonisan keluarga sedikit terusik, akan ada pihak yang disalahkan antara suami atau istri, biasanya pihak yang lebih banyak disalahkan yaitu pihak istri, banyak kasus yang tejadi hal itu dapat menyebabkan adanya ketidak puasan dan kekecewaan suami kepada istri. Jika kesabaran dari suami sudah tidak dapat lagi ditahan hal itu dapat mengakibatkan adanya penghardikan bahkan kekerasan dalam rumah tangga sebagai pelampiasan akan kekecewaan.

3. NILAI-NILAI ATAU NORMA
Nilai-nilai dan norma merupakan salah satu indikasi yang berkaitan dengan penyebab masalah sosial. Nilai dan norma sebagai penyebab masalah sosial dalam konteks kekerasan dalam rumah tangga disini terjadi manakala terjadi pelanggaran terhadap nilai dan norma yang ada didalam kelurga atau tidak dipatuhinya nilai didalam keluarga. selain itu, Penerapan nilai etika dalam keluarga yang salah, tidak adanya penghormatan dari istri kepada suami, tidak adanya kepercayaan suami terhadap istri, tidak berjalannya fungsi dan peran masing-masing anggota keluarga baik istri,suami, maupun anak juga menjadi pemicu terjadinya kekerasan. Sebagai contoh seorang ayah yang selalu menanamkan nilai disiplin terhadap anak dengan cara kekerasan, bagi ayah mungkin cara ini benar karena memiliki tujuan yang baik, tapi secara real tindakan ini sudah merupakan tindakan kekerasan yang akan berakibat fatal bagi perkembangan fisik maupun psikis anak. Dan pola pendidikan ini mungkin akan ditiru oleh anaknya kelak ketika menjadi seorang ayah maupun ibu, sehingga kekerasan terjadi secara turun-temurun. Contoh lain yang berkaitan dengan ketidak adanya kepercayaan antara suami dan istri misalnya dalam sebuah keluarga baik suami maupun istri timbul kecurigaan yang berlebihan seperti perselingkuhan yang menyebabkan suami ataupun istri tidak dapat berpikir panjang yang akhirnya menimbulkan percekcokan dan lebih parahnyalagi kekerasan fisik pun terjadi.


4. TIDAK TERSEDIANYA SISTEM SUMBER
Sumber yaitu suatu yang memiliki nilai dan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan serta memecahkan suatu masalah. Sumber kesejahteraan sosial dapat diartikan sebagai sumber atau potensi yang dapat digunakan dalam usaha kesejahteraan sosial atau praktek pekerja sosial.

Sasaran praktek pekerja sosial adalah hubungan antara orang dengan sistem-sistem dilingkungan sosialnya. Manusia yang sangat tergantung pada berbagai sistem sumber yang ada di sekitar kehidupannya untuk memperoleh berbagai sumber serta pelayanan dan kesempatan yang diperlukan dalam memenuhi berbagai kebutuhan.

Sumber adalah sesuatu yang berharga baik yang sudah maupun yang harus ditemukan yang dapat dimobilisasi sehingga dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan atau pemecahan masalah.
Dengan berbagai materi yang telah disampaikan, masalah yang terjadi yaitu ketidak tersedianya sistem sumber juga dapat meyebabkan masalah terjadi di dalam keluarga. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) juga dapat disebabkan oleh tidak adanya sistem sumber .

Sebagai contoh kasus yaitu :
Sebagai contoh kasus kebanyakan dimana seorang istri atau seorang anak mendapatkan kekerasan dalam keluarga yang di lakukan seorang ayah. Yang melampiaskan amarahnya dengan cara kekerasa dengan contoh memukul atau menendang seorang anak atau istrinya dan melakukan kekerasan apa pun kepada mereka. Yang di permasalahkan dalam contoh kasus ini yaitu kekurang ekonomi yang sebagai dasar terjadinya kekerasan dalam keluarga.

Analisis masalah :
Masalah dari kasus diatas bersumber pada kekurangan ekonomi. Sebuah rumah tangga yang kekurangan ekonomi sering menjadi dasar terjadinya KDRT. Tuntutan yang besar dari istri kepada suami yang menyebabkan sering terjadinya konflik dan terarah ke KDRT. Kaitan kasus diatas dengan penyebab masalah sosial tidak adanya sistem sumber yaitu ayah yang bekerja dengan hasil minim inilah yang menjadi pokok permasalahan. Kekurangan sumber dari ayah seharusnya kita gali lebih dalam . sumber sebenarnya dapat kita cari ataupun dapat kita buat. Sumber dapat berasal dari saudara, tetangga, teman, dan juga pemerintah maupun swasta.
Dalam kasus ini kekurangan dalam hal ekonomi dapat diberikan solusi seorang ayah dengan mencari pekerjaan yang lebih baik. Apabila susah mendapatkan pekerjaan yang baik karena umur yang semakin tua, ayah dapat mencari bantuan kepada saudara, teman, maupun meminjam dana dari instansi pemerintah maupun swasta. Dana yang dipinjam dapat digunakan dengan baik untuk membangun usaha yang belum banyak dilakukan oleh masyarakat.
Dalam hal ini, perubahan pola pikir ayah sebagai kepala keluargalah yang seharusnya kita rubah (mainset). Dengan cara itu kemungkinan besar akan berubah sifat seorang ayah yang selalu menggunakan kekerasan dalam mengambil keputusan.



DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Kekerasan_dalam_rumah_tangga
www.amazine.co/23387/waspadai-8-tanda-kekerasan-dalam-rumah-tangga-kdrt

Rabu, 10 Juli 2013

project manager dan project leader



Metode Prototyping Dalam Pengembangan Sistem Informasi

1.     Pengertian
Proses pengembangan sistem seringkali menggunakan pendekatan prototipe (prototyping). Metode ini sangat baik digunakan untuk menyelesesaikan masalah kesalahpahaman antara user dan analis yang timbul akibat user tidak mampu mendefinisikan secara jelas kebutuhannya (Mulyanto, 2009).
Prototyping adalah pengembangan yang cepat dan pengujian terhadap model kerja (prototipe) dari aplikasi baru melalui proses interaksi dan berulang-ulang yang biasa digunakan ahli sistem informasi dan ahli bisnis. Prototyping disebut juga desain aplikasi cepat (rapid application design/RAD) karena menyederhanakan dan mempercepat desain sistem (O'Brien, 2005).
Sebagian user kesulitan mengungkapkan keinginannya untuk mendapatkan aplikasi yang sesuai dengan kebutuhannya. Kesulitan ini yang perlu diselesaikan oleh analis dengan memahami kebutuhan user dan menerjemahkannya ke dalam bentuk model (prototipe). Model ini selanjutnya diperbaiki secara terus menerus sampai sesuai dengan kebutuhan user.

2.     Kelebihan dan Kekurangan
Keunggulan prototyping adalah :
1)     Adanya komunikasi yang baik antara pengembang dan pelanggan.
2)     Pengembang dapat bekerja lebih baik dalam menentukan kebutuhan pelanggan.
3)     Pelanggan berperan aktif dalam pengembangan sistem.
4)     Lebih menghemat waktu dalam pengembangan sistem.
5)     Penerapan menjadi lebih  mudah karena pemakai mengetahui apa yang diharapkannya
Sedangkan kelemahan prototyping adalah :
1)     Pelanggan tidak melihat bahwa perangkat lunak belum mencerminkan kualitas perangkat lunak secara keseluruhan dan belum memikirkan peneliharaan dalam jangka waktu yang lama.
2)     Pengembang biasanya ingin cepat menyelesaikan proyek sehingga menggunakan algoritma dan bahasa pemrograman sederhana.
3)     Hubungan pelanggan dengan komputer mungkin tidak menggambarkan teknik perancangan yang baik.

3.     Bentuk Prototipe
Berdasarkan karakteristiknya prototipe sebuah sistem dapat berupa low fidelity dan high fidelity. Fidelity mengacu kepada tingkat kerincian sebuah sistem (Walker et al, 2003).
Low fidelity prototype tidak terlalu rinci menggambarkan sistem. Karakteristik dari low fidelity prototype adalah mempunyai fungsi atau interaksi yang terbatas, lebih menggambarkan kosep perancangan dan layout dibandingkan dengan model interaksi, tidak memperlihatkan secara rinci operasional sistem, mendemostrasikan secara umum feel and look dari antarmuka pengguna dan hanya menggambarkan konsep pendekatan secara umum (Walker et al, 2003).
High fidelity protoype lebih rinci menggambarkan sistem. Prototipe ini mempunyai interaksi penuh dengan pengguna dimana pengguna dapat memasukkan data dan berinteraksi dengan dengan sistem, mewakili fungsi-fungsi inti sehingga dapat mensimulasikan sebagian besar fungsi dari sistem akhir dan mempunyai penampilan yang sangat mirip dengan produk sebenarnya (Walker et al, 2003).
Fitur yang akan diimplementasikan pada prototipe sistem dapat dibatasi dengan teknik vertikal atau horizontal. Vertical prototype mengandung fungsi yang detail tetapi hanya untuk beberapa fitur terpilih, tidak pada keseluruhan fitur sistem. Horizontal prototype mencakup seluruh fitur antarmuka pengguna namun tanpa fungsi pokok hanya berupa simulasi dan belum dapat digunakan untuk melakukan pekerjaan yang sebenarnya (Walker et al, 2003).

4.     Proses Pembuatan Prototipe
Proses pembuatan prototipe merupakan proses yang interaktif dan berulang-ulang yang menggabungkan langkah-langkah siklus pengembangan tradisional. Prototipe dievaluasi beberapa kali sebelum pemakai akhir menyatakan protipe tersebut diterima. Gambar di bawah ini mengilustrasikan proses pembuatan prototipe :


Langkah-Langkah Prototyping

a.  Analisis Kebutuhan Sistem
Pembangunan sistem informasi memerlukan penyelidikan dan analisis mengenai alasan timbulnya ide atau gagasan untuk membangun dan mengembangkan sistem informasi. Analisis dilakukan untuk melihat berbagai komponen yang dipakai sistem yang sedang berjalan meliputi hardware, software, jaringan dan sumber daya manusia. Analisis juga mendokumentasikan aktivitas sistem informasi meliputi input, pemrosesan, output, penyimpanan dan pengendalian (O'Brien, 2005).
Selanjutnya melakukan studi kelayakan (feasibility study) untuk merumuskan informasi yang dibutuhkan pemakai akhir, kebutuhan sumber daya, biaya, manfaat dan kelayakan proyek yang diusulkan (Mulyanto, 2009).
Analisis kebutuhan sistem sebagai bagian dari studi awal bertujuan mengidentifikasi masalah dan kebutuhan spesifik sistem. Kebutuhan spesifik sistem adalah spesifikasi mengenai hal-hal yang akan dilakukan sistem ketika diimplementasikan (Mulyanto, 2009).
Analisis kebutuhan sistem harus mendefinisikan kebutuhan sistem yang spesifik antara lain :
1)     Masukan yang diperlukan sistem (input)
2)     Keluaran yang dihasilkan (output)
3)     Operasi-operasi yang dilakukan (proses)
4)     Sumber data yang ditangani
5)     Pengendalian (kontrol)

Spesifikasi Kebutuhan Sistem

Tahap analisis kebutuhan sistem memerlukan evaluasi untuk mengetahui kemampuan sistem dengan mendefinisikan apa yang seharusnya dapat dilakukan oleh sistem tersebut kemudian menentukan kriteria yang harus dipenuhi sistem. Beberapa kriteria yang harus dipenuhi adalah pencapaian tujuan, kecepatan, biaya, kualitas informasi yang dihasilkan, efisiensi dan produktivitas, ketelitian dan validitas dan kehandalan atau reliabilitas (Mulyanto, 2009).

b.  Desain Sistem
Analisis sistem (system analysis) mendeskripsikan apa yang harus dilakukan sistem untuk memenuhi kebutuhan informasi pemakai. Desain sistem  (system design) menentukan bagaimana sistem akan memenuhi tujuan tersebut. Desain sistem terdiri dari aktivitas desain yang menghasilkan spesifikasi fungsional. Desain sistem dapat dipandang sebagai desain interface, data dan proses dengan tujuan menghasilkan spesifikasi yang sesuai dengan produk dan metode interface pemakai, struktur database serta pemrosesan dan prosedur pengendalian (Ioanna et al., 2007).
Desain sistem akan menghasilkan paket software prototipe, produk yang baik sebaiknya mencakup tujuh bagian :
1)     Fitur menu yang cepat dan mudah.
2)     Tampilan input dan output.
3)     Laporan yang mudah dicetak.
4)     Data dictionary yang menyimpan  informasi pada setiap field termasuk panjang field, pengeditan dalam setiap laporan dan format field yang digunakan.
5)     Database dengan format dan kunci record yang optimal.
6)     Menampilkan query online secara tepat ke data yang tersimpan pada database.
7)     Struktur yang sederhana dengan bahasa pemrograman yang mengizinkan pemakai melakukan pemrosesan khusus, waktu kejadian, prosedur otomatis dan lain-lain.

c.  Pengujian Sistem
Paket software prototipe diuji, diimplementasikan, dievaluasi dan dimodifikasi berulang-ulang hingga dapat diterima pemakainya (O'Brien, 2005). Pengujian sistem bertujuan menemukan kesalahan-kesalahan yang terjadi pada sistem dan melakukan revisi sistem. Tahap ini penting untuk memastikan bahwa sistem bebas dari kesalahan (Mulyanto, 2009).
Menurut Sommerville (2001) pengujian sistem terdiri dari :
1)     Pengujian unit untuk menguji komponen individual secara independen tanpa komponen sistem yang lain untuk menjamin sistem operasi yang benar.
2)     Pengujian modul yang terdiri dari komponen yang saling berhubungan.
3)     Pengujian sub sistem yang terdiri dari beberapa modul yang telah diintegrasikan.
4)     Pengujian sistem untuk menemukan kesalahan yang diakibatkan dari interaksi antara subsistem dengan interfacenya serta memvalidasi persyaratan fungsional dan non fungsional.
5)     Pengujian penerimaan dengan data yang dientry oleh pemakai dan bukan uji data simulasi.
6)     Dokumentasi berupa pencatatan terhadap setiap langkah pekerjaan dari awal sampai akhir pembuatan program.
Pengujian sistem informasi berbasis web dapat menggunakan teknik dan metode pengujian perangkat lunak tradisional. Pengujian aplikasi web meliputi pengujian tautan, pengujian browser, pengujian usabilitas, pengujian muatan, tegangan dan pengujian malar  (Simarmata, 2009).
Penerimaan pengguna (user) terhadap sistem dapat dievaluasi dengan mengukur kepuasan user terhadap sistem yang diujikan. Pengukuran kepuasan meliputi tampilan sistem, kesesuaian dengan kebutuhan user, kecepatan dan ketepatan sistem untuk menghasilkan informasi yang diinginkan user. Ada beberapa model pengukuran kepuasan user terhadap sistem, diantaranya adalah Technology Acceptance Model (TAM), End User Computing (EUC) Satisfaction, Task Technology Fit (TTF) Analysis dan  Human Organizational Technology (HOT) Fit Model.
Salah satu model pengukuran yang telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa berbeda dan tidak menunjukkan perbedaan hasil pengukuran yang signifikan adalah End User Computing (EUC) Satisfaction. Model ini menekankan kepuasan user terhadap aspek teknologi meliputi aspek isi, keakuratan, format, waktu dan kemudahan penggunaan sistem (Chin & Mathew, 2000).


d.  Implementasi
Setelah prototipe diterima maka pada tahap ini merupakan implementasi sistem yang siap dioperasikan dan selanjutnya terjadi proses pembelajaran terhadap sistem baru dan membandingkannya dengan sistem lama, evaluasi secara teknis dan operasional serta  interaksi pengguna, sistem dan teknologi informasi.

5.      Alat Perancangan Sistem
Perancangan sistem membutuhkan peralatan berupa alat alat perancangan proses dan  alat perancangan data. Alat perancangan proses terdiri dari diagram aliran data dan diagram arus sistem. Sedangkan alat perancangan data terdiri dari diagram relasi entitas (entity relationship) dan kamus data (data dictionary).
a.      Diagram Aliran Data
Diagram aliran data (data flow diagram/DFD) adalah sebuah alat dokumentasi grafik yang menggunakan simbol-simbol untuk menjelaskan sebuah proses. Diagram ini menunjukkan aliran proses seluruh sistem kepada pemakai dan dapat diatur detailnya sesuai dengan kemampuan pemahaman pemakai. DFD terdiri dari tiga elemen yaitu lingkungan, pemrosesan, aliran data dan penyimpanan data. Salah satu keuntungan menggunakan DFD adalah memudahkan pemakai yang kurang menguasai bidang komputer untuk mengerti sistem yang sedang akan dikerjakan (Ladjamudin, 2005).
b.     Diagram Arus Sistem
Diagram arus sistem (Sistem Flow chart) adalah peralatan yang digunakan untuk menggambarkan proses sistem secara rinci untuk menggambarkan aliran sistem informasi dan diagram arus sistem untuk menggambarkan aliran program (Ladjamudin, 2005).
c.      Diagram Relasi Entitas
Diagram relasi entitas menunjukkan antar entitas satu dengan yang lain dan bentuk hubungannya sehingga data tergabung dalam satu kesatuan yang terintegrasi (Ladjamudin, 2005).
d.     Kamus Data
Kamus data adalah penjelasan tertulis lengkap dari data yang diisikan ke dalam database (Ladjamudin, 2005).

Labels: prototipe, protoyping, simrs, sistem informasi, software, Teknologi
Serach : http://abhique.blogspot.com/2012/11/metode-prototyping-dalam-pengembangan.html









PROJECT MANAGER

Peran dari seorang Project Manager
Seorang project manager mempunyai tanggung jawab dan tugas yang bermacam-macam, tidak hanya terfokus pada hal-hal yg teknis sifatnya.
Bagaimana layaknya seorang project manager harus mempunyai kemampuan membuat tim proyek agar tetap solid, mampu memonitor dan mengontrol budget dengan membuat bar chart & critical path serta mempunyai kemampuan analisis resiko yang baik.
Berikut kita jabarkan peran dari seorang project manager dari 3 sudut pandang :
1.     Tanggung Jawab yang dimiliki seorang Project Manager
2.     Tantangan yang akan dihadapi seorang Project Manager
3.     Skill yang di butuhkan seorang Project Manager

Tanggung Jawab seorang Project Manager
Tanggung Jawab seorang Project Manager terdiri dari 4 (empat) cakupan antara lain :
1.     Proyek
2.     Organisasi
3.     Tim Kerja
4.     Project Manager itu sendiri

Setiap tanggung jawab mempunyai fokus dan peran yang sedikit berbeda. Salah satu yang paling nyata adalah, tanggung jawab terhadap proyek, Seorang Project Manager harus mengontrol proyek yang ditanganinya. Proyek harus selesai sesuai dengan budget, sesuai dengan spesifikasi, dan waktu. Ke tiga aspek itu harus dipenuhi oleh seorang Project Manager.
Seorang Project Manager juga mempunyai tanggung jawab terhadap organisasi. Proyek yang ditangani harus mempunyai return yang nyata terhadap organisasi. Taat kepada setiap kebijakan yang di keluarkan organisasi, harus mengambil keputusan dengan wewenang yang terbatas dari organisasi, dan juga kadang-kadang seorang Project Manager juga harus mengambil keputusan yang bukan yang terbaik bagi poyek tetapi terbaik buat Organisasi.
Seorang Project Manager juga harus mempunyai tanggung jawab tehadap tim kerja yang di pimpinnya. Memang tidak mudah tanggung jawab yang harus di penuhi terhadap tim kerja. Seorang Project Manager harus memberikan feedback dari hasil pekerjaan proyek jika diperlukan, memberikan perhargaan terhadap anggota tim proyek yang mempunyai prestasi yang baik, dan tantangan yang paling sulit adalah menyeimbangkan antara kepentingan anggota tim, kepentingan tim, dan kepentingan proyek.
Tanggung jawab Project Manager yang terakhir adalah tanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Tanggung jawab ini tidak pernah di diskusikan di setiap buku project management, tapi ini penting, khususnya jika kamu sudah memilih project manager sebagai profesi yang kamu tekuni. Jika perusahaan mendukung karir anda sebagai proyek manager, beruntung bagi anda, dan selamat saya ucapkan !!. Jika tidak tentu ini menjadi masalah yang besar bagi anda.

Skill yang diperlukan bagi seorang Project Manager
Untuk melaksanakan tanggung jawab yang telah dijabarkan diatas, seorang project manager perlu memiliki skill yang bermacam-macam. Jadi skill dan kemampuan apa saja yang diperlukan bagi seorang Poject Manager agar bisa menjalankan proyek secara efektif?.
Gary Heerken ( 2002) mengkategorikan skill & pengetahuan yang diperlukan seorang Project Manager menjadi 4 (empat) kategori :
1.     Project Management process skill
2.     Interpersonal & behavioral skill
3.     Technology management skill
4.     Desire personal traits

Project Management Process skill
Skill Proses manajemen proyek, bisa di sebut hard skill merupakan pengetahuan dan keahlian yang berhubungan dengan mekanisme dari manajemen proyek.
Seorang Project Manager harus bisa menguasai teknik, tools manajemen proyek dan teknologi yang bisa diaplikasikan di proyek. Contohnya seorang project manager harus bisa membuat work breakdown structure, membuat network diagram, dan bisa mempersiapakan dokumen-dokumen yang diperlukan klien.

Interpersonal dan Behavioral skill
Memimpin proyek berarti mengatur dan menyelesaikan segala sesuatu melalui orang lain. Seorang Project manager harus mempunyai Interpersonal & Behavioral skill yang baik, bisanya disebut soft skill. Behavioral skill meliputi : gaya (style), Kelakuan pesonal (personnal conduct), dan pendekatan (approach).

Technology Management Skill
Banyak proyek yang melekat pada yang namanya teknologi. Teknologi menuju kepada proses dari proyek. Sebagai contoh, proses itu mencakup : pengembangan software, proses kimia, atau konstruksi komersial. Kemampuan kita mengkoordinasi proses teknologi ini sangat penting jika ingin menjadi seorang project manager. Beberapa skill manajemen teknologi yang perlu dikuasai leh seorang Project Manager yaitu :
1.     kemampuan dalam teknologi proyek
2.     Kemampuan dalam mendukung teknologi area
3.     Pengetahuan tentang industri
4.     Kemampuan dalam mempersiapkan spesifikasi teknis secara kompreshensif
5.     kemampuan dalam disain
6.     Pengetahuan produk
7.     Pengetahuan tentang proses
8.     Manajemen properti

Desired Personal Skill
Banyak studi yang meneliti korelasi antara ciri personal project manager dengan kesuksesan project manager. Walaupun hasil studi juga menunjukkan hasil yang berbeda, tetapi ada beberapa ciri yang dominan antara lain :
1.     Kejujuran dan integritas
2.     Berpikir seperti seorang generalis
3.     Toleransi terhadap sifat ambiguitas
4.     Toleransi terhadap ketidakpastian
5.     Keyakinan yang tinggi
6.     Tegas
7.     Orientasi pada proses
8.     Percaya diri/reflektif
9.     Terbuka dan mudah di akses
10.  Cerdas

Seorang project manager adalah project manger yang mempunyai kemampuan di lapangan, dan diatas kertas, kemampuan dlam memimpin tim proyek. Seorang project manager yang sukses juga harus menguasai proses manajemen proyek, kemampuan dalam mengaplikasi teknologi, mempunyai interpersonal dan behavioral skill. (Willy)


Daftar Pustaka
Kleim R.L, Ludin I.R (1998), Project Management Practitioner’s Handbooks, McGraw-Hill
Hall. E, Johnson. J (2002), Integrated Project Management, Prentice Hall
Heerkens. G (2002), Project Management, McGraw-Hill

SUMBER : http://huangcorp.wordpress.com/2008/05/03/role-of-the-project-manager/